11 Juli 2012

Kata-kata Hubung yang Sering Disalah(guna)kan

Kata hubung atau konjungsi adalah kata yang berfungsi menyatukan dua buah kalimat atau lebih sehingga terbentuk kalimat majemuk. Kalimat majemuk itu sendiri ada bermacam-macam. Ada kalimat majemuk setara, bertingkat, dan campuran. Lho, ini pelajaran bahasa Indonesia? Bukan kok, hanya mencoba kilas balik ingatan pas SMA. Hehe.

Selama menjadi asisten mahasiswa yang ditugaskan mengoreksi pekerjaan mahasiswa dan membantu meninjau skripsi teman (Jangan ditiru! Bukan perbuatan baik), saya sering menemukan ada sejumlah kata hubung yang sering keliru penggunaannya dalam makalah ilmiah.

1.                  Sedangkan

Banyak mahasiswa yang sering meletakkan kata “sedangkan”di awal kalimat, termasuk dosen.  Contoh kasus:

Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam diri individu. Sedangkan faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar diri individu.

Padahal, kata ”sedangkan” tidak dapat diletakkan di awal kalimat. Secara gramatika, kalimat yang mengandung kata “sedangkan” tersebut agak menyalahi logika. Mengapa? “Sedangkan” adalah kata hubung yang berfungsi mempertentangkan 2 buah kalimat yang memiliki level setara. Logikanya, jika ada yang menentang, harus ada pula yang ditentang.

Pada kasus contoh, jika “sedangkan” diletakkan di awal kalimat, pertanyaan selanjutnya, siapa yang berlawanan/bertentangan dengan faktor eksternal? Pak/Bu, yang dipertentangkan itu ada di kalimat sebelumnya. Lah, tidak bisa seperti  itu. Satu kalimat harus mengandung satu ide yang utuh. Tidak bisa main dipisah-pisah begitu saja, Nak.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki kalimat pada contoh kasus? Beberapa caranya:

1. Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam diri individu, sedangkan faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar diri individu.

2. Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam diri individu. Sementara itu, faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar diri individu.


Kata “sementara itu” disebut sebagai kata transisi (dapat diletakkan di awal kalimat). Selain kata “sementara itu”, beberapa kata transisi pertentangan yang juga dapat digunakan, yaitu “namun”, “akan tetapi”, “sebaliknya”, “lain halnya”, atau ”lain halnya dengan ....”

Catatan tambahan: Sama halnya dengan kata “sedangkan” , kata “dan” dan “atau” juga tidak boleh diletakkan di awal kalimat.

2.                  Sehingga

Kata  “sehingga” ini juga sering keliru. Contoh kasus:

Penelitian ini baru terbatas pada subjek berjenis kelamin pria. Sehingga penelitian selanjutnya dapat menggunakan subjek berjenis kelamin wanita.

Kata “sehingga” adalah kata hubung sebab-akibat yang tidak bisa diletakkan di awal kalimat. Jika kata “sehingga” diletakkan di awal kalimat, kita akan bertanya-tanya mana penyebabnya? Pak/Bu, penyebabnya itu lho bisa dibaca di kalimat sebelumnya. Sebuah cara ngeles yang pintar, tetapi tidak logis, Nak.

Lalu, bagaimana kita dapat mengakali kalimat contoh kasus tersebut? Caranya:

1. Penelitian ini baru terbatas pada subjek berjenis kelamin pria sehingga penelitian selanjutnya dapat menggunakan subjek berjenis kelamin wanita.

2. Penelitian ini baru terbatas pada subjek berjenis kelamin pria. Oleh sebab itu, penelitian selanjutnya dapat menggunakan subjek berjenis kelamin wanita.


Kata hubung “oleh sebab itu” adalah kata transisi sebab-akibat yang dapat diletakkan di awal kalimat. Selain “oleh sebab itu”, kata transisi lain yang dapat digunakan adalah “akibatnya” dan “maka”.

3.                  Di Mana

Bahasa Indonesia tidak mengenal relative pronouns, seperti who, which, whom, whose, where, when, atau that. Semua relative pronouns tersebut tidak boleh diterjemahkan menjadi kata “di mana”. Bahasa Indonesia tidak mengenal kata “di mana” sebagai kata hubung.

Bagaimana menerjemahkan kalimat bahasa Inggris yang memiliki relative pronouns? Salah satu caranya dapat diganti dengan kata “yang”.

Do you know the boy whose mother is a nurse?
Kenalkah kamu dengan anak laki-laki yang Ibunya seorang perawat?

Online game designers create virtual communities in which players can assume any role they desire . . .
Para perancang online game menciptakan komunitas-komunitas virtual yang pemain-pemainnya dapat mengambil peran apa saja yang mereka sukai . . .

4.                  Jika…, maka…

Bahasa matematika dan bahasa pemrograman komputer mengenal pernyataan persyaratan (conditional statement) berupa if…, then…. Bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, artinya adalah jika…, maka…  Di dalam bahasa Indonesia, “jika” dan “maka” kedua-keduanya adalah kata hubung untuk level kalimat majemuk bertingkat.

Sayangnya, aturan kebahasaan Indonesia tidak mengizinkan dua buah kata hubung level kalimat majemuk bertingkat berada dalam satu kalimat karena dapat membingungkan. Singkatnya, pasangan jika-maka tidak bisa digunakan.

Jadi, pada contoh kasus:

Jika langit mendung, maka hujan sebentar lagi turun.

Kita dapat memperbaikinya dengan menghilangkan salah satu kata hubung.

Jika langit mendung, hujan sebentar lagi turun. --> jika ingin membentuk kalimat syarat

Langit mendung maka hujan sebentar lagi turun. --> jika ingin membentuk kalimat sebab-akibat

Sebetulnya ketika SMA, saya sudah diajarkan demikian. Jika-maka tidak boleh digunakan berpasangan. Namun, beberapa dosen yang saya kenal mengimbau menggunakan pasangan kata itu. Saya pun jadi keasyikan menggunakannya. Hehe. Akan tetapi, saya putuskan akan kembali lagi kepada aturan yang berlaku. Jika saja atau maka saja. Lebih hemat, lebih baik.

Catatan tambahan: Beberapa pasangan kata berikut sudah benar adanya oleh aturan kebahasaan Indonesia, seperti

Baik… maupun…
Antara… dan…
Tidak hanya…, tetapi juga…
Bukan…, melainkan…

Bahasa Inggris pun tidak mengenal if…, then… Untuk membuat conditional sentence, cukup gunakan if saja.

Penutup

Di dalam konteks nonilmiah (cerpen, buku harian, puisi, dsb), kata “sehingga” dan “sedangkan” masih boleh diletakkan di awal kalimat. Begitu pun dengan kata “di mana”, “jika…, maka…”, dan lain sebagainya. Lain halnya, pada makalah ilmiah yang menuntut adanya logika. Mengapa? Karena dalam makalah ilmiah, seperti skripsi, setiap kalimat mesti dapat dipertanggungjawabkan dan itu dipertanggungjawabkan secara pribadi (bukan malah dipertanggungjawabkan oleh pengarang-pengarang yang dikutip ya).

Akibat sering ditemukan kata-kata hubung yang tidak tepat guna, saya membuat tulisan ini. Dengan demikian, apa yang salah bisa diluruskan kembali. Saya juga tidak perlu lagi menerangkan berjuta-juta kali ke orang-orang yang naskahnya pernah saya periksa. Jujur, memperbaiki hal-hal yang sama berkali-kali itu…sangat membosankan!

Sumber tulisan yang digunakan antara lain, Cermat Berbahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi karangan E. Zainal Arifin dan S. Amran Tasai, Wikipedia, ingatan ketika SMA, dan sumber-sumber lain yang tidak saya catat.

Selamat bermakalah

3 komentar:

  1. blognya bermanfaat bagett.. thnkss...

    BalasHapus
  2. Hai Shandra.. Thx for blogwalking in here... senang rasanya tulisan ini bila bermanfaat :)

    BalasHapus
  3. Wah...terbantu sekali.Makasih ya... jadi harus lebih semangat lagi belajarnya!!!!

    BalasHapus